Keprofesoran

Ada tiga peristiwa penting dalam perjalanan karir saya sebagai dosen, pertama ketika diangkat sebagai profesor di Universiti Teknologi Malaysia (UTM) pada tahun 2010, kedua ketika dianugerahkan adjunct professor oleh Universitas Negeri Malang (UM) pada tahun 2017, dan baru-baru ini menerima Surat Keputusan (SK) pengangkatan sebagai profesor di UM oleh Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, Nadiem Anwar Makarim terhitung mulai pada 1 Agustus 2021. Ada istilah penting yang diharapkan dari penganugerahan tersebut, yaitu ‘keprofesoran’, yang maksudnya adalah sifat dan kewibawaan sebagai profesor. Kewibawaan itu tidak bisa dilihat dari angka-angka saja seperti jumlah publikasi dan sitasi, karena kewibawaan itu hanya kelihatan dari pandangan rekan-rekan sejawat (peer group).

Jika kita merujuk pada istilah keprofesoran, itu mengacu pada profesionalisme dan profesi. Menurut pembacaan saya di Wikipedia, profesi adalah sekelompok individu yang disiplin, mematuhi standar etika, menganggap diri mereka sendiri, dan diterima oleh publik sebagai memiliki pengetahuan dan keterampilan khusus dalam badan pembelajaran yang diakui secara luas yang berasal dari penelitian, pendidikan dan pelatihan pada tingkat dan yang siap untuk menerapkan pengetahuan ini dan mempraktikkan keterampilan ini untuk kepentingan orang lain. Definisi yang menurut saya cocok untuk orang yang sudah menjadi profesor.

Patut dipahami bahwa profesor adalah jabatan. Dari jabatan ini, diharapkan seseorang itu dapat mengembangkan bidang ilmu yang diembankan kepadanya. Oleh karena ini adalah jabatan, diharapkan seorang profesor tersebut dapat bertindak layaknya sebagai sebuah institusi kecil untuk menjalankan tugasnya. Hal ini dapat dilihat di negara-negara maju seperti Jepang, Eropa dan juga Amerika Serikat dimana seorang profesor mengetuai sebuah unit kecil yang mempunyai tanggung jawab dalam pengembangan pendidikan dan riset. Di universitas di Jepang, unit ini dinamakan sebagai Koza. Sebuah Koza mempunyai laboratorium diketuai oleh seorang profesor, dan terdiri dari associate professor, assistant professor, postdoc, mahasiswa B.Sc., M.Sc., dan Ph.D. Dengan begitu, proses dalam pengembangan pendidikan dan riset dapat dilakukan dengan lebih terarah dan mendalam karena setiap Koza mempunyai spesialisasi dalam bidang ilmu tertentu. Dari sinilah keprofesoran itu dapat diwujudkan dan berkembang dengan baik.

Namun, artikel ini sebenarnya mengkritik diri sendiri. Setidaknya dengan menulis ini, saya sadar akan tugas berat yang ada di tangan saya.