Ketika membaca The Prince karya Niccolò Machiavelli, kita mungkin tergoda untuk menganggapnya sebagai panduan kuno yang tidak lagi relevan dengan dunia modern. Namun, jika kita melihat realitas politik, bisnis, dan bahkan kehidupan sosial saat ini, kita akan menemukan bahwa prinsip-prinsip Machiavelli bukan hanya masih hidup, tetapi juga menjadi fondasi dari banyak sistem yang kita anggap “normal.”
Machiavelli mengajarkan bahwa seorang pemimpin harus mengutamakan hasil dibandingkan moralitas. Penguasa tidak harus selalu menepati janji, rasa takut lebih efektif daripada cinta, dan perang sering kali merupakan alat yang sah untuk mempertahankan kekuasaan. Ide-ide ini dulu dianggap kontroversial, tetapi hari ini, apakah kita tidak melihatnya dalam bentuk yang lebih tersamar?
Dunia yang dikuasai oleh pragmatisme tanpa moral
Lihatlah bagaimana negara-negara menjalankan kebijakan luar negeri mereka. Kepentingan nasional selalu mengalahkan etika, dan janji-janji diplomatik sering kali dilanggar jika tidak lagi menguntungkan. Dalam dunia korporasi, perusahaan raksasa tidak segan-segan menggunakan strategi agresif, monopoli, atau bahkan eksploitasi buruh demi mempertahankan dominasi pasar.
Media sosial? Manipulasi emosi publik, penyebaran informasi yang dikendalikan, dan penggiringan opini bukan lagi praktik yang mengejutkan. Para pemimpin politik tidak ragu untuk memainkan ketakutan massa, menggiring narasi tertentu, atau bahkan menabur kebingungan untuk memperkuat kendali mereka.
Apakah ini yang kita inginkan?
Pertanyaannya, apakah ini dunia yang kita inginkan? Apakah kita ingin hidup dalam masyarakat di mana kejujuran hanya berlaku jika menguntungkan? Di mana kebebasan dikorbankan demi stabilitas? Di mana ketakutan lebih efektif daripada cinta?
Machiavelli tidak mengatakan bahwa moralitas tidak ada gunanya, tetapi dia menekankan bahwa kekuasaan sering kali tidak bisa dipertahankan dengan kejujuran dan kebajikan semata. Dalam konteks politik dan bisnis modern, apakah kita tidak sedang menjalankan prinsip-prinsip ini tanpa menyadarinya?
Mungkin sudah waktunya kita bertanya kembali: apakah kita benar-benar mencari dunia yang lebih adil dan etis, atau justru tanpa sadar kita telah menerima pragmatisme Machiavellian sebagai satu-satunya jalan untuk bertahan?
Pragmatisme Machiavellian dalam filsafat ilmu
Sebagai seorang dosen, saya ingin melihat ini dari sudut pandang filsafat ilmu. Baik dalam politik maupun ilmu pengetahuan, pragmatisme telah menjadi prinsip dominan. Pertanyaannya bukan lagi apakah ini terjadi, tetapi apakah kita puas dengan ini? Apakah kita benar-benar ingin dunia di mana politik dan ilmu hanya tunduk pada efektivitas tanpa mempertimbangkan moralitas dan keadilan?
Jika kita mengkritik Machiavelli karena mengajarkan pemimpin untuk menggunakan tipu daya dan kekerasan demi stabilitas, apakah kita juga harus mengkritik ilmu jika ia digunakan sebagai alat dominasi tanpa mempertimbangkan etikanya?
Apakah kita mencari kebenaran, atau hanya kemenangan dalam kompetisi pengetahuan dan kekuasaan?