Seorang profesor statistik dari Amerika Serikat, kebetulan diaspora dari Indonesia, yang ikut dalam penyusunan kriteria ranking dari beberapa provider ranking, di grup WhatsApp yang saya ikuti, menyatakan bahwa ranking itu subjektif. Lebih lanjut dia mengatakan bahwa ranking universitas sering kali dipercaya sebagai indikator kualitas pendidikan yang objektif. Namun kenyataannya, sistem perankingan ini lebih merupakan alat pemasaran yang canggih daripada gambaran kualitas sesungguhnya. Sebuah universitas yang baru berdiri di Inggris misalnya mampu menduduki peringkat tinggi dalam waktu relatif singkat, meskipun mayoritas mahasiswanya berasal dari negara-negara berkembang. Apakah ini berarti kualitas pendidikan di universitas tersebut benar-benar unggul, atau ini sekadar strategi untuk menarik perhatian calon mahasiswa internasional?
Tidak jauh berbeda dengan situasi di Australia yang tujuan dari universitasnya adalah untuk komersial. Apakah wajar universitas yang berada di top 80 persen Australia dianggap lebih unggul dibandingkan universitas di negara lain yang mungkin punya kualitas setara atau bahkan lebih baik? Kenyataannya, sistem ranking yang memanfaatkan metrik seperti jumlah mahasiswa internasional dan dosen dari luar negeri membuat universitas tertentu tampak lebih menarik dan menjual, terlepas dari kualitas sebenarnya.
Sebaliknya, banyak universitas tua dan mapan di Amerika Serikat bahkan tidak terlalu peduli dengan ranking ini, karena reputasi akademik yang kuat sudah terbangun sejak lama tanpa harus bergantung pada peringkat internasional. Universitas-universitas ini tetap menjadi tujuan utama para pelajar global, menunjukkan bahwa ranking tidak selalu menentukan kualitas sebenarnya.
Ranking universitas mungkin berguna sebagai referensi awal, tetapi jangan pernah lupa bahwa di balik angka-angka tersebut terdapat strategi marketing yang kuat. Maka dari itu, keputusan memilih universitas seharusnya didasarkan pada kualitas program studi, kesesuaian minat, fasilitas yang tersedia, dan reputasi akademik nyata, bukan sekadar angka-angka dalam tabel peringkat.
Pada akhirnya, pertanyaan filosofis yang muncul adalah: apakah kita mencari pendidikan untuk menemukan kebenaran dan hakikat ilmu pengetahuan, ataukah kita hanya ingin memperoleh pengakuan sosial melalui simbol prestasi semu yang ditawarkan oleh angka-angka ranking tersebut?