Antara Ideologi, Sifat Manusia, dan Godaan Iblis: Mengapa Keadilan Sulit Ditegakkan?

Meskipun ideologi Marx menawarkan kritik tajam terhadap kapitalisme, kegagalannya dalam implementasi tidak hanya disebabkan oleh pengabaian terhadap sifat dasar manusia yang kompetitif, individualistik, dan cenderung mencari keuntungan pribadi, tetapi juga oleh faktor godaan iblis yang mempermainkan kelemahan manusia. Dalam banyak tradisi agama, iblis menggoda manusia dengan keserakahan, kedengkian, dan hasrat akan kekuasaan baik dalam sistem kapitalisme maupun komunisme. 

Dalam kapitalisme, godaan iblis tampak dalam bentuk kerakusan akan harta dan eksploitasi terhadap sesama demi keuntungan pribadi. Sementara dalam komunisme, iblis membelokkan cita-cita kesetaraan menjadi kediktatoran dan penyalahgunaan kekuasaan oleh segelintir elite. Keduanya menunjukkan bahwa ideologi yang canggih sekalipun dapat runtuh ketika manusia menyerah pada godaan kesombongan dan ketamakan. 

Oleh karena itu, perdebatan bukan hanya tentang memilih antara kapitalisme atau komunisme, tetapi bagaimana menciptakan sistem yang menyeimbangkan keadilan sosial dengan sifat dasar manusia yang kompleks. Sistem yang ideal tidak hanya memperhitungkan aspek ekonomi dan politik, tetapi juga menjaga moralitas dan spiritualitas agar manusia tidak jatuh dalam jerat godaan iblis yang menggiringnya pada ketidakadilan dan penindasan.

Tabel di bawah ini merangkum gagasan dalam tulisan tersebut dalam konteks ekonomi, pendidikan, dan politik. Tabel ini menunjukkan bahwa dalam setiap aspek kehidupan, ideologi dan sistem yang ada selalu menghadapi tantangan dari sifat dasar manusia serta godaan untuk menyalahgunakan kekuasaan. Hal ini menjadikan keadilan bukan hanya sebagai konsep teoritis, tetapi sebagai perjuangan moral yang terus-menerus.

BidangIdeologiSifat ManusiaGodaan IblisDampak terhadap Keadilan
EkonomiKapitalisme menawarkan kebebasan pasar dan insentif individu, sementara komunisme menjanjikan pemerataan ekonomi.Manusia cenderung kompetitif, individualistis, dan ingin memperoleh keuntungan maksimal.Keserakahan dalam kapitalisme mengarah pada eksploitasi tenaga kerja dan ketimpangan ekonomi; dalam komunisme, kesetaraan disalahgunakan oleh elite yang berkuasa.Keadilan sulit ditegakkan karena sistem ekonomi rentan terhadap monopoli, eksploitasi, atau penindasan atas nama kesetaraan.
PendidikanPendidikan berbasis meritokrasi mendorong kompetisi, sementara pendidikan egaliter menekankan pemerataan akses.Manusia memiliki dorongan untuk unggul dan mendapatkan keuntungan dari status sosial yang lebih tinggi.Hasrat akan prestise dan kekuasaan membuat sistem pendidikan lebih berpihak pada yang ber privilege; penyalahgunaan wewenang dalam pendidikan dapat menghambat akses bagi yang kurang mampu.Sistem pendidikan seringkali gagal menjadi alat mobilitas sosial dan malah memperkuat kesenjangan kelas.
PolitikDemokrasi mengutamakan partisipasi rakyat, sementara otoritarianisme mengklaim stabilitas dan ketertiban.Manusia mendambakan kekuasaan dan pengaruh dalam lingkungan sosial.Dalam demokrasi, politisi tergoda oleh korupsi dan populisme; dalam otoritarianisme, pemimpin menyalahgunakan kekuasaan untuk mempertahankan kendali.Keadilan sering dikorbankan demi kepentingan elite politik yang memanfaatkan sistem untuk keuntungan pribadi.