Ketika kita berpikir tentang universitas, yang terbayang seringkali adalah ruang-ruang intelektual yang penuh dengan kebebasan berpikir dan diskusi akademik yang terbuka. Namun, realitas di lapangan seringkali menunjukkan sesuatu yang jauh lebih kompleks, dan ironisnya, lebih tertutup. Di balik fasad akademik yang menjunjung tinggi pencarian ilmu, komunikasi di universitas justru dihambat oleh struktur hierarki, ego akademik, dan norma sosial yang rumit.
1. Komunikasi dalam cengkeraman hierarki
Universitas memiliki struktur kekuasaan yang rigid. Profesor senior, administrator, dan mahasiswa beroperasi dalam sistem yang sering kali lebih menyerupai feodalisme daripada lingkungan kolaboratif. Akibatnya, komunikasi tidak terjadi secara horizontal, melainkan vertikal dengan hambatan-hambatan yang membuat informasi tersaring sebelum mencapai pihak yang benar-benar membutuhkannya. Ini menciptakan “penghalang komunikasi” yang sering kali memperlambat inovasi dan perkembangan intelektual.
2. Ego dan kapital intelektual yang menghambat dialog
Di lingkungan akademik, orang-orang memiliki investasi intelektual yang tinggi. Mereka tidak hanya mempertahankan argumen, tetapi juga mempertaruhkan reputasi akademik mereka. Inilah yang menyebabkan debat intelektual sering kali lebih bersifat defensif ketimbang eksploratif. Scrutiny yang berlebihan terhadap ide-ide baru dapat menciptakan budaya ketakutan untuk berpendapat, di mana seseorang lebih memilih diam daripada mengambil risiko diserang secara akademik.
3. Budaya “saving face” dan ketakutan terhadap kritik
Dalam banyak kultur akademik, terutama di lingkungan yang masih paternalistik, kritik langsung dapat dianggap sebagai tindakan yang tidak sopan. Akibatnya, banyak akademisi muda dan mahasiswa yang memilih untuk menghindari perdebatan langsung, demi menjaga “muka” para senior atau profesor yang memiliki pengaruh besar dalam karier mereka. Hal ini tidak hanya menghambat pertumbuhan intelektual, tetapi juga memperkuat status quo yang mungkin sudah usang.
4. Solusi? Mengubah cara kita melihat komunikasi
Komunikasi, pada dasarnya, adalah cara kita menyelesaikan masalah. Baik itu dalam interaksi satu lawan satu, komunikasi massal, atau dalam kerja kelompok, komunikasi seharusnya menjadi alat untuk menjembatani kesenjangan pengetahuan, bukan memperlebar jurang hierarki dan ego. Universitas seharusnya menjadi tempat di mana perbedaan pendapat dihargai, bukan dilihat sebagai ancaman.
Jika kita ingin komunikasi di dunia akademik menjadi lebih sehat dan produktif, kita harus mulai mendobrak hierarki yang tidak perlu, membuka ruang dialog yang lebih setara, dan membangun budaya akademik yang lebih kolaboratif daripada kompetitif. Hanya dengan cara inilah universitas bisa benar-benar menjadi pusat pengetahuan yang terbuka, bukan sekadar menara gading yang menjauh dari realitas.