Sebagai seorang profesor, saya merasa perlu mendefinisikan kebahagiaan berdasarkan peran fungsional yang saya emban. Hal ini penting, karena pemaknaan kebahagiaan dalam konteks jabatan ini tentu berbeda apabila seorang profesor tidak menjalankan perannya secara utuh, misalnya, dalam kasus profesor yang tidak aktif secara akademik atau hanya menyandang gelar tanpa substansi. Kebahagiaan bagi seorang profesor, seorang intelektual yang hidupnya semestinya diwarnai oleh kegiatan riset, pengajaran, pemikiran kritis, dan refleksi mendalam, memiliki corak yang khas. Berikut ini adalah interpretasi konsep kebahagiaan yang diuraikan dari sudut pandang kehidupan seorang profesor:
“Kebahagiaan adalah hasil sinergi antara struktur otak, kimia otak, pengalaman, dan interpretasi makna”
1. Struktur otak
Profesor mengandalkan korteks prefrontal (penalaran tingkat tinggi) dan hipokampus (memori jangka panjang) dalam pekerjaannya. Struktur otak ini sangat aktif saat ia membaca, mengajar, atau meneliti, aktivitas yang bisa memberi kepuasan intelektual yang menjadi sumber kebahagiaan.
Interpretasi: Ketika seorang profesor berhasil menyelesaikan penelitian atau menginspirasi mahasiswanya, bagian otaknya yang menangani pencapaian dan hubungan sosial akan aktif, menghasilkan rasa bahagia yang dalam dan bermakna.
2. Kimia otak
Aktivitas seperti menemukan solusi dalam riset atau menerima pengakuan akademis dapat memicu dopamin (rasa pencapaian), oksitosin saat membimbing mahasiswa, dan serotonin dari stabilitas hidup yang dibangun lewat dedikasi jangka panjang.
Interpretasi: Bagi profesor, momen saat artikelnya diterbitkan di jurnal bergengsi atau melihat mahasiswa bimbingannya menjadi profesor bisa menyalakan pelepasan dopamin yang lebih kuat dibanding hadiah material.
3. Pengalaman
Kebahagiaan profesor juga bersumber dari kumpulan pengalaman bermakna: menjadi narasumber konferensi internasional, membangun relasi intelektual, atau mendampingi mahasiswa hingga wisuda.
Interpretasi: Setiap interaksi yang positif dengan mahasiswa atau kolega akan disimpan sebagai pengalaman emosional yang memperkaya rasa bahagia jangka panjang.
4. Interpretasi makna
Profesor cenderung melihat kehidupannya dalam bingkai kontribusi terhadap pengetahuan, bukan sekadar pencapaian pribadi. Ia menafsirkan pekerjaannya sebagai bagian dari misi yang lebih besar.
Interpretasi: Meski lelah menghadapi revisi jurnal, profesor bisa tetap bahagia karena ia melihatnya sebagai bagian dari perjalanan intelektual yang berdampak.
“Otak bukan hanya mengenali kebahagiaan, tetapi juga dapat dilatih untuk menciptakan lebih banyak pengalaman bahagia melalui refleksi, relasi sosial, dan latihan kognitif”
5. Refleksi
Profesor sering merenungkan makna hidup, ilmu, dan peran sosial. Refleksi semacam ini, apalagi bila dituangkan lewat tulisan atau diskusi, memperkuat kesadaran diri dan mengokohkan rasa puas batin.
Interpretasi: Saat profesor menulis esai filsafat atau jurnal introspektif, ia sedang membangun struktur mental yang menumbuhkan ketenangan dan kebahagiaan batin.
6. Relasi sosial
Meski tampak individualistik, profesor juga merasa bahagia saat menjadi bagian dari komunitas akademik, mentoring mahasiswa, atau kolaborasi antar universitas.
Interpretasi: Diskusi mendalam dengan rekan sejawat yang sefrekuensi secara intelektual bisa menghasilkan rasa bahagia setara dengan momen rekreatif bagi orang lain.
7. Latihan kognitif
Karena otaknya terus “dilatih” lewat membaca, berpikir kritis, menulis, dan berdiskusi, profesor secara alami memiliki kebugaran mental tinggi yang mendukung keseimbangan emosional.
Interpretasi: Mempelajari teori baru atau mengajar topik kompleks bukan hanya memberi nilai akademik, tapi juga kesenangan batin dan mental reward.
Kesimpulan interpretatif
Kebahagiaan seorang profesor adalah bentuk kebahagiaan eudaimonik, yaitu rasa bahagia yang tumbuh dari makna, kontribusi, dan pencapaian intelektual. Ia tidak mengejar kebahagiaan sebagai tujuan, tetapi kebahagiaan datang sebagai efek samping dari hidup yang dijalani dengan kesadaran dan dedikasi tinggi.