Percakapan dengan supir Grab

Saya sering berbicara dengan banyak orang ketika melakukan perjalanan, terutama mereka yang bekerja di posisi yang rendah seperti sopir, pelayan toko, tukang parkir, dan sebagainya. Seringkali, saya memperoleh banyak kebijaksanaan hidup dari percakapan dengan mereka, terutama tentang arti kehidupan. Meskipun mereka memiliki penghasilan yang relatif sedikit, mereka dapat memberikan makna hidup yang dalam dengan kebijaksanaan mereka.

Sebentar tadi, saya naik Grab di Yogyakarta yang dikemudikan oleh seorang pria setengah baya. Filosofi hidupnya sangat sederhana, yaitu menerima hidup apa adanya dan selalu bersyukur. Ketika merasa lelah, ia mengambil waktu untuk beristirahat dan tidak mengeluh karena hidup ini singkat. Setelah sampai di tujuan, sang sopir mendoakan saya, dan sepertinya ia melakukan hal yang sama untuk semua penumpangnya. Kehidupan ini memang perlu dihargai dan dimaknai, tanpa harus memusingkan teori-teori yang rumit. Yang penting adalah bersyukur untuk meraih kebahagiaan. Itulah pelajaran yang saya peroleh dari percakapan ini.

Karena itu, penting bagi kita untuk meluangkan waktu untuk merenung dan memperhatikan apa yang benar-benar penting dalam hidup kita. Terkadang kita terjebak dalam kejar-kejaran materi atau karier dan kehilangan fokus pada kebahagiaan dan kepuasan dalam hidup.

Dengan menyederhanakan hidup dan kembali ke hal-hal yang benar-benar penting, kita dapat merasa lebih bahagia dan tenang dalam menjalani hidup. Filosofi hidup yang sederhana seperti itu dapat membantu kita mencapai kebahagiaan dan kepuasan yang sejati dalam hidup.

Saat ini, saya sedang menunggu kereta api menuju Malang di Jalan Malioboro, Yogyakarta, yang akan berangkat pada jam 8 malam ini.