Kualitas riset dan ekosistemnya

Buku-buku ini merupakan karya-karya luar biasa yang telah menjadi referensi penting dalam bidangnya masing-masing.

Di pelataran gedung A19 Universitas Negeri Malang (UM), ada pameran buku, kisah perjalanan intelektual dimulai. Buku-buku ini, bagai jendela pemahaman, menanti di sudut pameran buku. Saya membeli buku karya Hildred Geertz dan Harry A. Poeze.

“Keluarga Jawa” karya Hildred Geertz, bukan sekadar disertasi, melainkan sebuah perjalanan pengetahuan yang menghirup napas kehidupan Jawa, membentang dari Modjokuto hingga ke setiap sisi budaya dan sosial. Begitu pula “Tan Malaka: Gerakan Kiri, dan Revolusi Indonesia” oleh Harry A. Poeze, bukan hanya biografi, namun juga sebuah cerita yang dirajut dari benang-benang penelitian bertahun-tahun, melintasi batas-batas geografis.

Buku-buku ini merupakan karya-karya luar biasa yang telah menjadi referensi penting dalam bidangnya masing-masing. Keluarga Jawa adalah disertasi PhD Hildred Geertz yang penelitiannya selama 15 bulan di desa dengan nama samaran Modjokuto, Jawa Tengah. Penelitian ini membutuhkan persiapan yang matang, termasuk mempelajari bahasa Indonesia, Belanda, dan Jawa. Hasil penelitian ini memberikan gambaran yang mendalam tentang kehidupan keluarga Jawa, mulai dari struktur sosial, ekonomi, hingga budaya.

“Tan Malaka: Gerakan Kiri, dan Revolusi Indonesia” yang lebih dari 2000 halaman karya Harry A. Poeze yang ditulis selama hampir 10 tahun. Buku ini merupakan biografi yang komprehensif tentang Tan Malaka, tokoh gerakan kiri terkemuka di Indonesia. Poeze melakukan penelitian yang mendalam, termasuk mengumpulkan sumber-sumber dari berbagai negara. Hasil penelitian ini memberikan gambaran yang utuh tentang kehidupan dan perjuangan Tan Malaka.

Kedua buku ini menunjukkan bahwa penelitian yang berkualitas membutuhkan kedalaman, ketekunan, dan kajian yang tidak dibuat main-main. Penelitian yang dilakukan secara terburu-buru dan penuh trik hanya akan menghasilkan karya yang dangkal dan tidak berdampak.

Keduanya, bukan sekadar tinta di atas kertas, melainkan hasil dari proses penelitian yang tak kenal lelah, mendalam, dan serius. Tetapi, di tengah gemerlap pengetahuan ini, muncul pertanyaan: mampukah ekosistem pendidikan tinggi dan riset di tanah air menciptakan karya sekaliber ini?

Menilik kondisi saat ini, ekosistem pendidikan tinggi dan riset di Indonesia seolah berada di persimpangan. Kita memerlukan perubahan paradigma, di mana penelitian tidak hanya sekedar kewajiban akademis, namun menjadi sebuah upaya kreatif untuk memberi kontribusi pada masyarakat. Harus ada dukungan yang lebih luas dan mendalam, baik dari pemerintah maupun institusi pendidikan, yang meliputi pendanaan, fasilitas, dan peluang untuk mengejar penelitian yang bermakna.

Lebih dari itu, perlu ada peningkatan mutu dalam pendidikan dan pelatihan bagi para pendidik. Dosen, sebagai penggali ilmu, perlu dibekali dengan pengetahuan dan keterampilan yang mumpuni untuk menuntun mereka dalam perjalanan penelitian yang berkualitas.

Langkah-langkah ini bukan sekedar impian. Jika pemerintah dapat membuat kebijakan tepat yang dapat memberikan ruang gerak bagi dosen untuk mengeksplorasi topik penelitian, dan meningkatkan kualitas pendidikan serta pelatihan bagi para pendidik, kita akan melangkah lebih dekat ke ekosistem pendidikan tinggi dan riset yang ideal.

Pada akhirnya, perjalanan untuk mencapai ekosistem yang kondusif bagi terciptanya karya besar adalah perjalanan kita bersama. Sebuah upaya kolektif untuk mengukir harapan, membangun pengetahuan, dan menerangi masa depan bangsa dengan cahaya penelitian yang tak hanya berkualitas, tapi juga bermakna.