Kisah sisir dalam memaknai sesuatu

Akhirnya sisir yang menemani istriku, Terry Terikoh, selama 31 tahun, sejak beliau masih gadis, akhirnya patah oleh si bungsu Fahima Zikra. Sisir ini juga telah menyisir kepalaku selama 23 tahun, sejak kami menikah pada tahun 1993. Tidak terhitung berapa banyak rambut yang rontok oleh sisir ini. Memang tidak ada yang abadi di dunia ini. Namun, kami berterima kasih karena sisir ini telah berkhidmat dengan keluarga kami lebih dari tiga dasawarsa.

Mungkin bagi sebahagian orang, patahnya sisir adalah hal yang biasa. Tidak luar biasa. Ini bergantung bagaimana kita melihat dan meletakkan nilai kepada sesuatu. Memaknai sesuatu. Dalam hidup ini saya berusaha untuk memaknai semua yang yang saya alami, walaupun kecil dan sepele. Bagi saya, seharusnyalah kita memaknai dari detik ke detik kehidupan yang singkat ini supaya berarti.