Pendidikan tinggi: Peringkat, bias kognitif, dan makna sejati

Di tengah hiruk-pikuk peringkat universitas yang sering kali menggebu, tersembunyi sebuah paradoks yang menggelitik. Peringkat, dengan segala angka dan statistiknya, seolah menjadi dewa baru yang disembah dalam dunia pendidikan tinggi. Namun, di balik tirai angka-angka tersebut, tersimpan sebuah pertanyaan mendalam: Apakah esensi sejati pendidikan tinggi hanya terletak pada angka-angka peringkat?

Kita sering terjebak dalam bias kognitif, terutama dalam melihat angka. Angka, yang mudah dimanipulasi, sering dianggap sebagai simbol kekuasaan, kebesaran, dan ketenaran. Namun, penting untuk mempertimbangkan dengan bijak makna di balik angka-angka tersebut. Dalam permainan peringkat ini, kita sering lupa bahwa pendidikan tinggi sejatinya adalah tentang mencerahkan, bukan sekadar kompetisi angka. Peringkat, yang seharusnya menjadi alat, malah berubah menjadi tujuan.

Kompetisi yang dibangun oleh peringkat ini sering kali menutupi keindahan kolaborasi. Bukankah dalam setiap ilmu pengetahuan, kolaborasi adalah kunci? Dalam ruang kelas, laboratorium, dan diskusi, kolaborasi adalah nyawa dari inovasi dan penemuan. Namun, dalam bayang-bayang peringkat, kolaborasi menjadi terpinggirkan, seolah-olah pendidikan tinggi hanyalah arena pertarungan gladiator antar universitas.

Efek negatif dari kompetisi ini terasa nyata. Universitas-universitas terjebak dalam permainan angka yang tak berujung, mengabaikan panggilan untuk berbagi pengetahuan dan sumber daya. Kesenjangan antara universitas ‘pemenang’ dan ‘pecundang’ semakin melebar, menciptakan jurang dalam kualitas pendidikan. Dan yang paling tragis, mahasiswa, yang seharusnya menjadi pusat dari pendidikan tinggi, terjebak dalam narasi peringkat yang sempit.

Namun, ada tiga jenis kemenangan dalam hidup ini yang perlu dipertimbangkan: Pemenang dengan angka, pemenang dengan integritas, dan pemenang dengan nilai. Pemenang dengan angka menang karena skor tertinggi, namun pemenang dengan integritas menang tanpa menindas atau menghancurkan orang lain, dan pemenang dengan nilai berguna bagi orang lain, menghargai dan berkontribusi positif kepada masyarakat. Sayyidina Muhammad SAW mengajarkan bahwa orang yang terbaik adalah mereka yang membawa manfaat paling banyak bagi umat manusia.

Maka, tibalah saatnya untuk menggugat kembali makna pendidikan tinggi. Bukan angka peringkat yang harus dikejar, melainkan pencerahan yang harus diupayakan. Kolaborasi, bukan kompetisi, yang harus menjadi nyawa pendidikan tinggi. Kita harus kembali pada esensi pendidikan sebagai pencerahan, sebagai jembatan yang menghubungkan ilmu pengetahuan dengan kehidupan, bukan sebagai arena pertarungan angka yang tak berujung.

Dalam refleksi ini, mari kita renungkan kembali: Apakah kita akan terus terjebak dalam permainan angka peringkat, atau kita akan mengangkat wajah pendidikan tinggi sebagai sumber pencerahan yang sejati? Pilihan ada di tangan kita.