Refleksi seorang perantau

Indonesia! Setelah 27 tahun berkelana di Malaysia dan Jepang, akhirnya saya kembali. Bukan sekadar pindah koordinat di peta, ini perjalanan kembali ke akar, ke pangkuan memori dan identitas yang terbentuk dari tanah air tercinta. Dalam perjalanan ini, saya belajar bahwa rindu itu lebih dari sekadar kangen pada suatu tempat; itu pencarian makna dan posisi kita di panggung dunia.

Selama merantau, saya menemukan filosofi: rumah itu bukan cuma tempat di GPS, tapi kondisi batin di mana hati kita berlabuh dalam kedamaian. Kita semua mencari ‘rumah’ dalam arti yang lebih dalam, tempat di mana kita bisa jadi diri sendiri tanpa takut dicap aneh, tempat berbagi cinta dan kehangatan dengan mereka yang mengerti perjalanan kita. Kembali ke Indonesia, saya sadar, rumah itu tempat di mana kita diterima apa adanya dan bisa berkontribusi dengan segala pengalaman yang kita petik selama di perantauan.

Dari kacamata psikologi, homesick yang saya alami mengajarkan banyak tentang diri sendiri. Rindu itu bukan hanya pada tempat, tapi juga pada kenangan dan orang-orang yang memberi warna pada perjalanan hidup saya. Homesick itu pelajaran tentang membangun jembatan antara masa lalu dan masa depan, antara pengalaman dan tantangan yang akan datang. Ini proses adaptasi, belajar menerima dan mengintegrasikan bagian diri yang mungkin sempat kita abaikan.

Dalam konteks kesehatan jiwa, kembali ke Indonesia adalah momen introspeksi dan penyembuhan. Bertahun-tahun terpisah dari akar dan budaya, kembali ke tanah air adalah kesempatan menyembuhkan luka batin yang mungkin terlupakan. Ini saatnya mengisi ulang energi, merenungkan apa yang benar-benar penting dalam hidup. Kesehatan jiwa itu bukan cuma mengatasi rindu, tapi juga membangun kembali hubungan dengan diri sendiri dan komunitas.

Mari kita renungkan makna ‘rumah’. Rumah bukan hanya tempat kembali, tapi juga tempat kita tumbuh dan berkembang. Kembali ke Indonesia setelah 27 tahun bukan penutup perjalanan, tapi awal babak baru dalam hidup saya, di mana saya bisa berbagi cerita dan pengalaman dengan generasi yang akan datang. Mari kita semua mencari ‘rumah’ kita, bukan hanya sebagai tempat pulang, tapi sebagai sumber inspirasi untuk terus maju.